catatan, featured

Perkembangan Memprihatinkan Budaya Sub Kultur Jepang di Indonesia

Beberapa kali saya menemukan penggemar lama budaya subkultur yang menyukai anime manga (di Indonesia) mengeluhkan bahwa penggemar kegemaran ini semakin menakutkan. Mungkin belum ada yang sampai seperti di Jepang, sampai menikah dengan bantal karakter, bahkan melakukan pembunuhan (eh? atau sudah?). Namun sikap konsumtif yang tidak terkontrol, sudah sampai pada tahap yang mengherankan. Juga hilangnya kemampuan untuk bicara santun serta bersikap sopan.

images

Wajar bila penggemar lama bisa merasakan gap perbedaan perilaku yang jelas, karena mereka sudah mengalami periode ketika anime manga mulai booming.

Kesamaan penggemar (lama dan baru) yang teradiksi di level tidak normal, yang bersikap terlalu fanatik dan elitis adalah : semuanya sama-sama memanfaatkan kegemaran ini untuk “lari” dari permasalahan hidup sehari-hari. Entah itu masalah keluarga, sekolah, pekerjaan, dsb.

Tapi ada perbedaan signifikan yang menyelamatkan penggemar lama dari kondisi seperti  sekarang. Dahulu :

  • Kesulitan mendapatkan akses untuk kegemaran mereka. Internet tidak secanggih sekarang.
  • Tidak banyak produsen yang memfasilitasi kecenderungan ini.
  • Dan diatas semua, karya-karya yang hadir tidak seperti sekarang mudah umbar scene fan service.
  • Ketika tiba jaman booming koneksi internet cepat kebanyakan dari mereka sudah dewasa (fungsi otak sudah sempurna) dengan prioritas2 hidup lain.

 

Itulah dia. Saya melihat kemungkinan paling logis, mengapa fenomena memprihatinkan itu bisa terjadi, kemungkinan telah terjadi proses menciutnya salah satu fungsi otak penggemar anime manga yang ketika remaja (ataupun saat dewasa) sudah terlalu banyak melihat unsur dewasa yang dihadirkan seperti kembang gula visual pada anime manga.

Porsinya ada sedikit-sedikit di manga legal, yang bertema dewasa atau shounen, dan bisa banyak dalam mangascan. Bahkan ada genre yang mengkhususkan untuk itu.  Hasil ketagihan ini memang sangat menggiurkan produsen. Menuai banyak klik, mendongkrak penjualan, menuai uang dari hasil penjualan merchandise figur Jepang, baik yang berpose normal atau penuh pose2 mesum.

Intinya, mereka sudah terjamin mendapat banyak pelanggan seumur hidup, terutama dari kaum adam. Makin muda makin baik (rating? ya.. haha..kita perlu basabasi dikitlah, ayok bikin rating). Inilah level kejatuhan sesuatu yang dianggap sebagai karya seni oleh pengusungnya. Dan menodai citra karya-karya sopan lain.

Penjelasan ilmiah proses menciutnya salah satu fungsi otak adalah seperti dibawah ini (abaikan saja dulu judulnya, ganti dengan melihat gambar-gambar fan service) :

Tahap kecanduannya adalah sebagai berikut :

Semakin muda terpapar, semakin berbahaya. Beberapa senior di sebuah grup mengeluhkan perilaku juniornya yang selalu minta link donlot anime manga mesum padahal awal-awalnya mereka masih polos.

Keluhan-keluhan di paragraf awal apakah mirip dengan ciri-ciri pecandu?

Tapi itu kan kebanyakan pria ya, wanita imun, dong? Betul, struktur otak pria memang kurang menguntungkan dalam hal ini, karena jauh lebih mudah fokus serta melupakan semua hal. Mereka target potensial. Tetapi bukan berarti wanita imun. Bila otak sudah kebanjiran dopamin perbedaan gender tidak berarti. Kalau pada lelaki banyak terdapat pada penggemar h3nt41, 3cch1, pada wanita, kemungkinan besar penggemar game2 percintaan atau genre y401.

Kecanduan ini terbukti lebih berbahaya daripada narkoba, dan susah dideteksi. Kamu tidak teler di jalanan karenanya. Apalagi klinik terapi khusus untuk hal tersebut belum ada di Indonesia. Baru ada di Amerika. Para dokter dan terapis sudah menjadi saksi bagaimana kecanduan ini merusak segala aspek kehidupan pencandu, mulai dari produktivitas, keinginan belajar, hubungan keluarga, kondisi keuangan, sampai tindak kriminal.

Beberapa penggemar yang sudah dewasa, masih memiliki nalar dan kontrol kuat, sehingga bisa mewaspadai ketika ada kondisi tidak sehat.  Namun tidak demikian dengan yang kecanduan sejak remaja (apalagi kecil). Karena bila terus terpapar, penggemar dewasa bahkan kakek2 sekalipun (!) bisa error juga, apalagi mereka.

Baca : Tips Pensiun Jadi Otaku

Memang tidak mungkin bila menghentikan secara tiba-tiba. Namun salah satu cara adalah :

  • Hentikan mencari sumber anime manga yang illegal atau impor dari luar negeri. Karena tidak bisa dipertanggung jawabkan kontennya. Memilih yang legal pun sebetulnya masih memiliki PR juga, seperti menghindari judul-judul yang sangat “provokatif” dalam hal fan service (umumnya manga dewasa genre seinen, jousei, dan manga remaja laki-laki shounen).  Karena mereka itu katalis, pemikat. Bisa disamakan seperti umpan, ini  tindakan memancing “naluri nafsu lapar” ikan. Mungkin kamu menganggap dirimu imun, tapi ketika perpustakaan “keterpikatan” di otak bertambah, ini akan memicu rasa penasaran dan tanpa disadari mempengaruhi keputusan2 pembelian selanjutnya. Ya, karena yang sudah bermain adalah naluri.
  • Hindari komunitas atau teman-teman yang kamu rasa bisa mendorong kamu melakukan hal adiksi, yang berujung konsumtif, sampai melalaikan kewajiban di dunia nyata. It’s not cool. It’s a complete disaster. 
  • Selalu tanyakan hal-hal ini kepada diri sendiri. Apakah perasaan menyenangkan (seperti di video pertama di atas) selalu kamu alami ketika menikmati kegemaranmu? Dan depresi, selalu ingin lebih, setelah semua usai?
  • Bila sudah mengalami. Tidak perlu malu mengakuinya, yang penting lakukan sesuatu bagi diri sendiri. Dapatkan bantuan profesional bila perlu.
  • Lacak dan temukan permasalahanmu yang sebenarnya…dari mana semua kerusakan itu bermula? Mengapa dulu melarikan diri ke sana?

Jangan sampai hal yang menyenangkan membunuh potensi kamu ke depan.

otakuGambaran umum otaku di Jepang

Wish you all the best.

Silahkan bila ingin share pengalaman…

Catatan :

Tulisan ini dibuat tanpa pengaruh pihak manapun. Penulis bukan pekerja penerbit legal dan kawan-kawannya. Semua berdasarkan hasil penelitian di internet, lapangan, dan wawancara.  Sayangnya, tidak mungkin menampilkan link dari beberapa sumber, karena masih ada gambar2 yang kurang layak untuk disebarluaskan.

image : pinterest, bspaceberkeley.edu, gamefaqs.com, geeksout.blog.cnn.com

Iklan

18 thoughts on “Perkembangan Memprihatinkan Budaya Sub Kultur Jepang di Indonesia”

  1. Blog yang rapi, tulisan yang indah, blog kak Saya keren banget.
    Saya ke sini lewat komen yang ditinggalkan di blog AV+, dan well, apa yang saya bisa katakan…

    Semua poin di postingan ini tepat sasaran, dengan bahasa yang halus (beda seperti AV+ yang lebih ke arah tough love), semua poin bisa disalurkan dengan jelas dan simple.

    Saya bakal pin postingan ini ke blog, dan mungkin share di beberapa group & page saya di Facebook. Dan dengan begitu semoga mereka yang kecanduan fanservice bisa merenungkan perilaku mereka selama ini.

    Semoga kedepannya kita bisa jadi teman blogging, kak.
    – AV

    Suka

    1. Weleh. Jadi malu. Blog ini masih berantakan bgt. ^^; Silahkan share. Ini hanya medium sederhana dari ilmu yg semua orang berhak tahu. Makasih dukungan dan kunjungannya. Btw. gaya bahasa kamu tumben beda dari yg biasa ditulis blog. Jadi rada pangling. :))
      Ok. Sip, deh.

      Disukai oleh 1 orang

      1. Hahah, saya beda ya?

        Kalau di blog, saya anggap itu adalah ‘kamar kost’ saya sendiri, yang merupakan hak saya untuk menata, mendekorasi, dan ‘mengotorinya’ semau saya.

        Dan secara ini blog punya Saya, jadinya saya nggak bisa mengotori dengan seenak sendiri dong :>

        Anyway, jujur saya ngerasa nyaman berada di blog ini. Bahasanya jelas jauh lebih halus dari yang saya gunakan, dan pastinya lebih bisa diterima oleh pembaca yang lebih luas juga.

        Welp, semoga kedepannya bisa lebih baik lagi aktivitas bloggingnya! Kalau ada apa-apa, saya siap membantu m(_ _)m

        Disukai oleh 1 orang

  2. Reblogged this on and commented:
    Follow-up dari postingan Fan Service kemarin, kali ini dari blog Sono Hi Made milik Saya.

    Silahkan dibaca, Unit! Dan sebarkan ke para WEEBS yang ingin kalian naikkan levelnya!

    AV, out!

    Suka

  3. artikelnya bagus you know baru kali ini saya nemu artikel yang sangat smart

    well saya pun juga korban disini tau hentai sejak umm SMP
    dan saya pun dulu sering melihat temen-temen saya bahkan pas saya masih SD (saya beneran masih ingat ) mereke nonton porno format 3gp di hapenya saya yang pertama kali lihat exactly jijik sama hal itu tapi lambat laun saya pun kepengaruh juga sama hal itu

    saya nonton anime sejak saya masih SD well taun 2000’an kali yah tepatnya dan yah dulu minim sensor atau awarenes soal beginian masih TIDAK ada saya melihat secara terang-terangan fanservis ranma, sailor moon, knight lamune, dlll tapi saya gatau kalo itu ecchi bla..bla karena saya anggap itu biasa saja

    sampai akhirnya saya liat semua jadi booming dan semuanya serba mudah well dan saya juga sempet kejebak di masalah masturbasi ( sekarang masih berusaha untuk mengatasinya ) dan sekarang saya sudah 21 dan nyadar yg saya lakuin dan nikmatin itu salah sejak kecil dan bener-bener mempengaruhi saya sampai sekarang.

    tapi sayangnya nambah tahun seiring saya terus observe di internet saya versi lain terus ada khususnya anak atau abg yang macam di grup “imbisil” menelurkan generasi versi saya yang sepertinya lebih tidak very nice.

    cuma yah apa daya saya pun juga tidak berbuat banyak hahaha

    #curcol_sedikit

    Suka

    1. Makasih bersedia share pengalaman disini. “Kebiasaan” itu memang sulit diatasi sendirian. Kebanyakan harus melewati proses terapi untuk mencari “penyebab inti”.Tapi bukan tdk mungkin sembuh, ya. Asal orangnya sendiri yg sadar. “Mau sembuh ga?” Kalo ga, ya, sekampung mau mengubah pun sgt mustahil.

      Hal plg sederhana yg bisa dilakukan hati2 upload atau share link dg gambar aneh2.

      Suka

  4. Artikel yang benar benar bagus

    yah, saya juga korban sih dan tau hentai sejak kelas 7, walaupun saya masih menahan untuk tidak melihat hal yang begitu.
    sekarang saya kelas 9, saya pun sudah tau apa itu “fap fap” dan saya juga pernah melakukan “fap fap” setelah menonton “hentai” (cuma sekali sih :v )
    itu saya lakukan karena penasaran “apa sih hentai itu??” “fap fap itu apa??” “apa rasanya fap fap?? , saya mengetahui fap fap dan hentai pun dari internet.

    awalnya saya hanya melihat hal hal ecchi dan lama kelamaan pun saya mempunyai rasa untuk melihat hentai.

    sekarang saya kelas 9 dan saya menyadari bahwa itu adalah perbuatan yang salah. saya menyesal atas apa yang saya perbuat selama ini. walaupun saya sudah tau apa akibt dari nonton yang “begitu” tapi saya tetaap melihatnya karena penasaran.

    oh iya, bagi yang sudah tau apa itu porno, hentai, bokep, fap fap, dsb janganlah kalian melihat atau melakukan perbuatan itu karena suatu saat kalian akan menyesal atas apa yang kalian perbuat.

    Suka

    1. Makasih share dan infonya ya. Perkembangan kosa kata selalu maju selangkah. Iya, pasti penasaran terus. Itu akan sulit diatasi sendiri. Tapi makin muda sadar, sudah sangat baik. Asal lgs menolong diri sendiri. Coba minta dukungan keluarga, untuk mendapatkan bantuan profesional.

      Suka

  5. Tepat sasaran,
    sejak suka sama kartun Jepang perlahan demi perlahan tingkatan fanservice yang ingin
    dilihat kian menjadi, ketika sudah mencapai tingkatan tertentu, saya mulai menahan diri untuk tidak melihat yang lebih vulgar lagi,
    alhasil saya tetap pada tingkatan tersebut selama 3 tahun ini. (Masih enggak kuat lihat gambar bugil, sampai Pen*** perempuan, hubungan seks)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s