catatan

Tips Pensiun Jadi Otaku

otaku

Blog ini sempat menuai kenaikan traffic di postingan “Perkembangan Memprihatinkan Sebuah Budaya Sub Kultur Jepang di Indonesia”. Belakangan ini juga menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari mereka yang ingin “pensiun” dari kefanatikan dunia budaya sub kultur, namun susah lepas karena keterpikatan yang terlalu besar.

Dia tidak sendiri. Masih banyak pencinta lama yang masih sempet2in nonton dan ikut ke acara-acara dengan alasan “NOSTALGIA”. Juga mengoleksi ratusan film dan lagu.

1.Benahi dulu masalah utama yang memicu hal-hal diatas.

Ketagihan tidak bisa begitu saja dihentikan, terutama jika seseorang masih memiliki segala kebosanan, kesepian, kemarahan, stress, capek…paling gampang lari…ke sana lagi kesana lagi.Kebanyakan les? Berhentikan saja :P. Ortu bermasalah,  bikin “intervention” ke ortu agar masalah diselesaikan segera sebab menyangkut masa depanmu..tsahh..

Karena kalau penyebab utama enggak hilang, percaya, deh. Kamu akan lari lagi lari lagi ke hal itu-itu saja. Minimal siklus kecanduan akan kembali dalam bentuk lain. Bisa sampai mati. Merusak semua hubungan bilateral atau …amit-amit…jadi jomblo abadi.

2. Belajar membuat “batasan”

Ya, mungkin seperti orang merokok, dikurangi dulu satu-satu. Bila langsung berhenti bisa emosi jiwa dan malah merampas rokok orang lewat.

Batasan itu seperti yang pernah disinggung sebelumnya adalah mempersulit akses mendapatkannya. Seperti harus legal, menghindari komunitas sepeminatan, unfollow semua akun-akun yang membuat mata melirik lagi.

Bila ingin lebih cepat,  terutama kaum adam yang mudah fokus dan sangat visual, sebaiknya menghindari segala hal yang bersifat image visual. Disini termasuk manga, anime, game. Karena tidak ada yang lebih menggoda ketimbang gambar (manusia). Paling tidak perkecil porsinya.

3. Membuat Pengalihan

Bentuk pengalihan : cari kegemaran lain. Atau kamu nggak tahan dengan kecintaanmu terhadap Jepang, boleh saja, kenapa enggak? Jepang masih menawarkan banyak hal positif lain, kok, misal judul-judul yang memang aman seperti anime klasik, anime keluaran Ghibli Studios, anime movies yang sudah mengantongi penghargaan festival. Manga-manga yang bisa dinikmati banyak kalangan, one-shot, atau yang kecil sekali kemungkinannya bikin nagih. Contohnya kayak judul2 di blog ini *sempetin promosiong haha*

Cara lain :  mengalihkan ke hal non-visual seperti novel. Kenapa saya menyarankan novel bagi penggemar cerita? Karena membaca novel membutuhkan konsentrasi,  kesabaran tinggi, serta imajinasi. Sementara manga dan graphic novel itu sifatnya jauh lebih instan. Kepuasannya lebih cepat habis.

4. Perbanyak Kegiatan Lapangan

Hal lain, mungkin bisa mencari kegemaran-kegemaran tradisional yang banyak mereka tawarkan di Pusat Kebudayaan Jepang. Seperti ikebana, igo, dsb.

Atau bila kamu penggila olahraga coba bergabung dengan jenis olahraga yang memiliki koneksi kuat dengan hobi ke-Jepanganmu.

5. Belajar ilmu baru

Belajar bahasa? Kenapa tidak. Saya mengenal beberapa maniak subkultur Jepang yang telah bertransformasi jadi translator buku-buku bahasa Jepang. Juga ada yang kemudian selalu mengambil beasiswa untuk menuntut ilmu disana sampai S3.

6. Memperluas pergaulan

Bagaimana dengan hubungan sosial?  Apalagi bila selama ini begitu terikat dengan “istri2” dan “suami2” yang..moe, kawaii, bishounen, dsb.

Bila keinginan sudah mulai terkontrol, ya, apa yg menahan diri  untuk tidak mencoba “keluar” mencari hubungan yang sesungguhnya? Persiapkan diri dulu tapi, rapi dan banyak2 ngaca.:)) Awal2 saja yang susah. Tapi kalau sudah banyak terjun ke lapangan akan terbiasa dan menikmati ketertarikan hubungan normal dengan lawan jenis yang bisa jadi istri dan suami beneran.:P

Akhir kata..

Sebuah hobi berbau Jepang, tidak harus menjadi sesuatu  yang negatif sampai harus jadi minus atau potensi diri berkurang. Tinggal kita yang memegang kendali  ingin jadi seseorang seperti apa. Tentunya tidak mau selamanya image ini seperti foto diatas (iya, ga semua bener, kok), seorang otaku yang nyentrik, penyendiri, berpenampilan tidak terurus, jarang mandi, acak-acakan, serta memiliki rahasia gelap yang selalu dijaga seketat harta karun bajak laut.

Bila ketagihan susah dihentikan atau masih berlanjut, hubungi profesional. Itu bukan hal memalukan, malah sangat wajar dan masuk akal. Seperti bila sakit pergi ke dokter.

Mari menjadi adalah “penguasa” atas diri sendiri. Selamat mencoba.

Image : outsiderjapan.pbworks.com

 

Iklan

1 thought on “Tips Pensiun Jadi Otaku”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s