catatan, resensi

Novel Jepang, Sebuah Opini

novels

*Geret pena….memaksakan diri untuk menulis*

Setelah beberapa lama membaca beberapa novel Jepang terjemahan Indonesia. Saya menemukan banyak hal baru.

Untuk genre romans dan drama kebanyakan gaya bercerita novelis Jepang itu…sangat lambat. Terutama, menurut saya, karena kebanyakan detail serta penggambaran suasana yang sampai2 banyak hal terasa kurang penting ikut dibahas.

Lagi2, itu menurut saya, lho, yang tidak memiliki latar belakang sastra. Jadi bisa saja memang bukan selera.

Butuh ketekunan dan keteguhan jiwa untuk membaca selembar perlembarnya. Dan karena bukan orang yang tahan godaan, saya lebih kebanyakan skip nya, langsung ke permasalahan inti (apaan, coba? niat enggak, sih).

Satu perkecualian…pada genre drama-komedi, atau romans-komedi. Tetapi unsur komedik di novel Jepang tidak seperti novel Indonesia yang suka bermain di suasana slapstick, penuh bahasa gaul, dan atau sarat permainan diksi yang kocak. Cara melucu mereka lebih…lambat juga…hahaha…lumayan bikin senyum-senyum, kok.

Tetapi, kekuatan penggambaran suasana dan detail itu akan sangat sangat bermanfaat untuk…..genre kriminal, detektif, dan thriller. Karena hal tersebut menjadi demikian penting, seperti membangun sebuah bangunan yang ingin pembaca lihat. Dan membuat kita jadi memiliki cukup banyak info untuk menebak siapa pelaku.

Jadi kesimpulannya, untuk orang-orang anti-tekun semacam saya, pilihlah genre ini. Jauh lebih menarik.

Soal terjemahan, surprisingly, beberapa penerbit memiliki penerjemah yang benar-benar bagus. Mungkin ada yang terasa kaku disana sini, tetapi jauh lebih baik daripada dulu-dulu.

Beberapa light novel yang saya cicipi memiliki grafis yang sangat manga-ish. Jadi bagi yang terbiasa dengan manga bisa langsung membayangkan kejadian-kejadiannya. Nanti saya bikin review2nya.

Banyak yang bisa saya simpulkan dari membaca novel dari sudut pandang budaya. Walaupun ketimuran, namun ternyata masyarakat Jepang juga sangat adaptif terhadap budaya Barat. Kecuali bila menyangkut urusan di tempat kerja dan keluarga. Mereka bisa sangat konservatif. Anti-feminis. Kemudian karena unsur agamis pada budaya Jepang memang tidak begitu kental, maka dalam hal ini, masih bisa kita lihat perbedaan-perbedaan dengan budaya Indonesia (pada novel-novel remaja).  Seperti memaparkan hubungan sejenis, seks bebas, seatap sebelum menikah, perselingkuhan, dsb. Namun penerbit ada yang berupaya “menghaluskan” beberapa poin diantaranya sehingga lebih diterima oleh segmen pembaca lebih muda.

Semua hanya pemanasan, moga-moga saya nanti merasa terundang untuk mencoba level novel-novel Jepang yang lebih tinggi lagi, karena sudah mendunia.Seperti Eiji Yoshikawa, Natsume Soseki, Haruki Murakami, dll. *menempelkan plester pada kelopak mata*

Tetapi saya tidak akan memaksakan diri bila (mata saya) tidak sanggup..:P.

It’s just a hobby. :))

Iklan

4 thoughts on “Novel Jepang, Sebuah Opini”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s