catatan

Tips Pensiun Jadi Otaku

otaku

Blog ini sempat menuai kenaikan traffic di postingan “Perkembangan Memprihatinkan Sebuah Budaya Sub Kultur Jepang di Indonesia”. Belakangan ini juga menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari mereka yang ingin “pensiun” dari kefanatikan dunia budaya sub kultur, namun susah lepas karena keterpikatan yang terlalu besar.

Dia tidak sendiri. Masih banyak pencinta lama yang masih sempet2in nonton dan ikut ke acara-acara dengan alasan “NOSTALGIA”. Juga mengoleksi ratusan film dan lagu. Continue reading “Tips Pensiun Jadi Otaku”

Iklan
catatan, featured

Perkembangan Memprihatinkan Budaya Sub Kultur Jepang di Indonesia

Beberapa kali saya menemukan penggemar lama budaya subkultur yang menyukai anime manga (di Indonesia) mengeluhkan bahwa penggemar kegemaran ini semakin menakutkan. Mungkin belum ada yang sampai seperti di Jepang, sampai menikah dengan bantal karakter, bahkan melakukan pembunuhan (eh? atau sudah?). Namun sikap konsumtif yang tidak terkontrol, sudah sampai pada tahap yang mengherankan. Juga hilangnya kemampuan untuk bicara santun serta bersikap sopan.

Continue reading “Perkembangan Memprihatinkan Budaya Sub Kultur Jepang di Indonesia”

featured, resensi

Takasugi’s Lunch Box

Walaupun sudah berusia 31 tahun dan bergelar doktor, status Harumi Takatsugi, bujangan, masih pengangguran. Tugasnya hanya membantu di ruang penelitian universitas. Dengan kondisi demikian tiba-tiba dia “ditimpa” kewajiban untuk merawat sepupunya Kururi yang masih berusia 12 tahun. Kururi adalah putri tunggal Miya, bibi Harumi, yang meninggal karena kecelakaan. Dalam wasiatnya Miya mempercayakan Kururi pada Harumi.

Continue reading “Takasugi’s Lunch Box”